Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 13 Juli 2012

Fenomena gila


Ngeklaim adalah yang paling substansial yang pernah ada mungkin merupakan kepuasaan tersendiri, entah apa maksud hal tersebut, akhir- akhir ini banyak sekali contah klaim entah klaim anak, pacar atau apapun, mungkin lagi trendnya yang namanya klaim- mengklaim.
Bicara soal klaim akhir- akhir ini banyak sekali soal itu yang namanya klaim, yang masih hangat seprti kopi yang baru dibuat ialah KLAIM tari tor- tor oleh komunitas batak Malaysia yang ingin tari tersebut diangkat sebagai warisan budaya Malaysia, banyak sekali respond entah yang hanya ikut- ikutan, pemerhati ataupun masyrakat yang terlanjur terprovokasi.
Ada poin menarik ketika ada isu terebut yaitu maraknya yang bikin status di socmed akan hal tersebut temasuk ane sebagai yang nulis tulisan ini, menurutku sih boleh saja reaktif tapi jangan terlalu reaktif, bijaknya kalian memuat akan isu tersebut harus disertai dengan wawasan akan hal tersebut jangan ikut- ikutan karena itu memalukan percaya deh. Banyak yang saya lihat di socmed yang ada malah bukan membikin suatu penjelasan malahan mereka membuat suatu provokasi implicit ataupun eksplisit yang akan berujung kepada yang namanya “konfrontasi” dan itu sangat merugikan sekali.
Boleh- boleh saja membuat suatu tulisan di socmed tetapi harus didampingi dengan wawasan yang cukup biar enggak malu- maluian. Ngomong- ngomong soal reaktif masyarakat kita sangat mudah terprovokasi hal yang tidak jelas dan terkadang cuma ikut- ikutan “eksistensialis” yang terkadang bikin tertawa seluruh dunia, mereka reaktif tetapi kalau membuat penjiplakan atau mengakui karya orang lain sangat hobi sekali, bisa dilihat mulai dari pajak, “palak” ataupun pemalsuan merek, bukti silahkan dicari di pasar- pasar.
Ada sebuah kejadian lucu ketika ada seseorang yang membuat sebuah status tentang kalim negari tetangga tersebut, dia nulis berapi- api sekali tapi pas ditanya asal- usul hal yang ditulis dia tidak tahu dan beberapa saat browsing dan baru tahu (hahahahahahaha), bukan niat untuk menyingung atau apa bijaknya kita jangan terlalu reaktif kalau belum tahu sumber yang pasti, kebenaran media itu Cuma 50:50 dan terkadang memuat sebuah kepalsuan dengan agenda tertentu, media dewasa ini hanya sebagai alat politis untuk menggapai yang namanya popularitas atau hanya rating semata, contoh kasus sukhoi banyak media yang meliput tenatang kejadian naas tersebut tapi disisi lain mereka tidak memiklirkan kondisi psikis dari korban malahan ketika wawancara mereka cenderung memancing “tangis” keluarga korban.
Sebenarnya susah- susah gampang untuk melindungi apa yang menjadi milik kita yaitu caranya ialah mengenali, belajar dengan begitu secara tidak langsung kita akan ikut berpartisipasi melestarikan apa yang namanya “budaya”, mungkin dari sekarang mulai digalakan cinta budaya negeri dengan memasukan pelajaran tentang kebudayaan di sekolah- sekolah dan memperbanyak event yang secara tidak langsung akan mengenali budaya tersebut tapi semua itu tergantung pemerintah dan individu yang menjalaninya, “the little error can make great error” hal kecil kalau dibiarkan berlarut- larut akan menjadi sebuah momok agung yang menakutkan, apa susahnya mengenal dan belajar karena itu akan menambah wawasan daripada “sok tahu” tapi tidak tahu dan mulai sekarang harus lebih menghormati karya seni apapun semisal seupama anak zaman sekarang yang rata- rata cenderung menganggap kampungan budaya semisal bahasa jawa, lalu music campursari ketika diklaim mereka koar- koar gak jelasa tapi sehari- harinya mengolok- ngolok dan tidak mengerti apa itu yang namanya nasionalisme malahan kita kan ditertawakan oleh orang luar sana dan menganggap kita “bodoh”.
Intinya ayo kawan- kawan kita mulai mengenal, mencoba belajar, memahami dan mengenalkan yang secara tidak langsung akan melindungi apa yang semestinya menjadi milik kita karena dunia akan melihat hal tersebut.


Kisah Galau


Sebuah kisah yang mencoba aku tuliskan di layar yang hina ini, mungkin ini hanyalah sebuah unek- unek yang terus menggelayut dipemikiran saya, entah apa yang saya pikirkan dan sampai sekarang masih terbayang, apa yang membuatku harus putus asa ketika setelah sekian lama jatuh cinta sama seorang wanita, disebuah perilaku pasti ada yang melatarbelakangi seperti apa yang dijelaskan oleh freud, memang tidak mudah untuk lepas dari bayangan masa lalu dan ketika anda di dalam masa transisi menuju dewasa, berawal dari januari tahun kemarin awalnya Cuma iseng dan  ternyata berbuah yang namanya cinta begini kronologisnya (sms fact):


Sebut dia Bayu dan si cewek Nami


4 juni 2011
Bayu: hay Nami
Nami: haha iya Bayu
Bayu: kamu lagi apa?
Nami: not reply

Hari- hari berlanjut seperti biasa, kami sekelas di dua mata kuliah dan itu membuatku semangat untuk menjalani hari- hari indah itu (subjektif).


7 juni 2011
Bayu: eh kamu tahu gak, kalau kamu itu kok?
Nami: Kok apa?
Bayu: ehm apa ya?
Nami: ayu apa jelek?
Bayu: Jelek hahahha, lagi dimana kamu?
Nami: kok mayak kamu, lagi di gramex foto- foto.

Singkat cerita namun cukup bagiku


8 juni 2011
Bayu: eh aku mau gombalin kamu boleh
Nami: Boleh
Bayu: tapi entar ya
Nami: lebih baik di ekspose kali
Bayu: aduh jangan
Nami: ho ya ih malu- malu kucing deh hahahah
Bayu: siapa yang malu, tunggu ya
Nami: tulis di twitter tapi
Bayu: oke

Iam forget about the text


10 juni 2011
Bayu: apa kabar?
Nami: baik

Masih belum curiga, dan terbutakan oleh cinta


11 juni 2011
Bayu: Lagi apa?
Nami: ke sofa nonton tv, no where to go, it just so good laying down on a coach while watched those great movie.
Bayu: Maksudnya laying down? Kamu nonton itu ya?
Nami: Laying itu bohong, down itu bawah,heem itu salah satu yang aku lihat tadi lihat banyak aku.
Bayu: eh yang di foto fb itu siapa ya, kembaranmu ya?
Nami: lihat juga, ha emang siapa kembaranku?
Bayu: mpok atik
Nami: kok mayak
Bayu: tapi tetep cantik kok
Nami: oh gitu ya
Bayu: iya hehehe

Masih belum merasakan kejanggalan


12 juni 2011
Bayu: halo apa kabar?
Nami: not reply
Bayu: ekspresimu lo
Nami: ekspresi apa?
Bayu: ekspresi wajahmu
Nami: not reply

Masih berpikir postif waktu itu bertepatan dengan liburan semester, tapi dari awal aku mulai curiga kalau ini gak akan mulus apalagi aku ini hanyalah sampah, berhari- hari berlalu aku mencoba sms tapi tak kunjung dibalas, aku psotif saja mungkin belum waktunya, dan saat itupun tiba.


17 juni 2011
Bayu: hay
Nami: ini siapa ya
Bayu: aku bayu
Nami: bayu siapa?

Yah mulai kelihatan kalau ini memang suatu pertanda apa lagi atitudenya mulai berubah dari yang dulu lumayan ramah ke jutek dan coba silent setiap dan akupun terus bertanya- kenapa dan kenapa, sampai akhirnya ini klimaksnya.


10 juli 2011
Bayu: eh boleh nanya gak
Temen Nami: iya tanya apa
Bayu: Kenapa kok name ngehindarin aku?
Temen  Nami: Sebelum aku jawab, kamu suka sama name?
Bayu: Iya
T emen nami: Maaf sebelumnya kalau ini menyakiti kamu, tetapi dia udah tahu kalau kamu suka makanya dia ngehindar
Bayu: oh ya sudah makasih ya.

Dan seketika hati ini remuk, kabut menyelimuti otak dan badaipun menghembus kencang, entah kenapa kok berakhir begini, kenapa tidak sama dengan mimpi, kenapa ya? Aku sempat bepikir apa aku kurang tampan (memang) apa karena lainya, kok gak ada alas an pastinya, dan pada saat itu pula aku malas bertemu denganya sepatah katapun tidak keluar entah aku salah atau apa tapi ini memang seperti yang dia inginkan, aku tahu maksudnya baik tetapi alangkah baiknya terus terang toh gak akan sesakit ini, dan pada waktu itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghindarinya, entah ini baik atau tidak tapi aku terlanjur sakit hati sampai sekarang, galau dan aku akan galau selamanya entah kapan dan sampai kapan, biarkanlah waktu bejalan dan menjawab sebuah kegelisahan jiwa dan batin.

 

Nb: aku memang salah karena jatuh cinta dengan orang yang keliru, baik bukan berarti dia suka sama kamu lihatlah dulu apa maunya dan kenapa dia begitu dan jangan pernah terlalu percaya diri, pada intinya kenalilah sebelum tertarik, dan jangan pernah sakit hati hanya karena hal yang beginian.

Nb: aku masih berharap mimpi itu nyata, tapi itu bullshit, kepikiran bukan berarti mau berteman lagi.