Ngeklaim adalah yang
paling substansial yang pernah ada mungkin merupakan kepuasaan tersendiri,
entah apa maksud hal tersebut, akhir- akhir ini banyak sekali contah klaim
entah klaim anak, pacar atau apapun, mungkin lagi trendnya yang namanya klaim- mengklaim.
Bicara soal klaim
akhir- akhir ini banyak sekali soal itu yang namanya klaim, yang masih hangat
seprti kopi yang baru dibuat ialah KLAIM tari tor- tor oleh komunitas batak
Malaysia yang ingin tari tersebut diangkat sebagai warisan budaya Malaysia,
banyak sekali respond entah yang hanya ikut- ikutan, pemerhati ataupun
masyrakat yang terlanjur terprovokasi.
Ada poin menarik
ketika ada isu terebut yaitu maraknya yang bikin status di socmed akan hal
tersebut temasuk ane sebagai yang nulis tulisan ini, menurutku sih boleh saja
reaktif tapi jangan terlalu reaktif, bijaknya kalian memuat akan isu tersebut
harus disertai dengan wawasan akan hal tersebut jangan ikut- ikutan karena itu
memalukan percaya deh. Banyak yang saya lihat di socmed yang ada malah bukan
membikin suatu penjelasan malahan mereka membuat suatu provokasi implicit
ataupun eksplisit yang akan berujung kepada yang namanya “konfrontasi” dan itu
sangat merugikan sekali.
Boleh- boleh saja
membuat suatu tulisan di socmed tetapi harus didampingi dengan wawasan yang
cukup biar enggak malu- maluian. Ngomong- ngomong soal reaktif masyarakat kita
sangat mudah terprovokasi hal yang tidak jelas dan terkadang cuma ikut- ikutan
“eksistensialis” yang terkadang bikin tertawa seluruh dunia, mereka reaktif tetapi
kalau membuat penjiplakan atau mengakui karya orang lain sangat hobi sekali,
bisa dilihat mulai dari pajak, “palak” ataupun pemalsuan merek, bukti silahkan
dicari di pasar- pasar.
Ada sebuah kejadian
lucu ketika ada seseorang yang membuat sebuah status tentang kalim negari
tetangga tersebut, dia nulis berapi- api sekali tapi pas ditanya asal- usul hal
yang ditulis dia tidak tahu dan beberapa saat browsing dan baru tahu
(hahahahahahaha), bukan niat untuk menyingung atau apa bijaknya kita jangan
terlalu reaktif kalau belum tahu sumber yang pasti, kebenaran media itu Cuma
50:50 dan terkadang memuat sebuah kepalsuan dengan agenda tertentu, media
dewasa ini hanya sebagai alat politis untuk menggapai yang namanya popularitas
atau hanya rating semata, contoh kasus sukhoi banyak media yang meliput
tenatang kejadian naas tersebut tapi disisi lain mereka tidak memiklirkan
kondisi psikis dari korban malahan ketika wawancara mereka cenderung memancing
“tangis” keluarga korban.
Sebenarnya susah-
susah gampang untuk melindungi apa yang menjadi milik kita yaitu caranya ialah
mengenali, belajar dengan begitu secara tidak langsung kita akan ikut
berpartisipasi melestarikan apa yang namanya “budaya”, mungkin dari sekarang
mulai digalakan cinta budaya negeri dengan memasukan pelajaran tentang
kebudayaan di sekolah- sekolah dan memperbanyak event yang secara tidak
langsung akan mengenali budaya tersebut tapi semua itu tergantung pemerintah
dan individu yang menjalaninya, “the little error can make great error” hal
kecil kalau dibiarkan berlarut- larut akan menjadi sebuah momok agung yang
menakutkan, apa susahnya mengenal dan belajar karena itu akan menambah wawasan
daripada “sok tahu” tapi tidak tahu dan mulai sekarang harus lebih menghormati
karya seni apapun semisal seupama anak zaman sekarang yang rata- rata cenderung
menganggap kampungan budaya semisal bahasa jawa, lalu music campursari ketika
diklaim mereka koar- koar gak jelasa tapi sehari- harinya mengolok- ngolok dan
tidak mengerti apa itu yang namanya nasionalisme malahan kita kan ditertawakan
oleh orang luar sana dan menganggap kita “bodoh”.
Intinya ayo kawan-
kawan kita mulai mengenal, mencoba belajar, memahami dan mengenalkan yang
secara tidak langsung akan melindungi apa yang semestinya menjadi milik kita
karena dunia akan melihat hal tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar