Kehilangan
Wahyu eka.s
Ketika
memandang langit yang terus bersedih
Hatiku
terasa sangat teriris melihatnya
Hitam
pekat petir saling bahu membahu menyuarakan isi hati
Merupakan
kepedihan yang tidak bisa dilukiskan oleh pujangga
Menyembunyikan
rasa sakit namun pedih
Memendam
sebuah perasaan yang teramat
Membutakan
mata hati dan realita
Gelap
mataku, gelap hatiku apa memang hatiku yang gelap
Mengerti
apa yang sedang terjadi pada diriku sekarang ini
Tertahan
oleh desiran ombak pedih
Tergerus
oleh rasa keterpurukan
Lalu
lenyap oleh rasa ketidakberdayaan
Terpuruk
oleh rasa tidak dapat menerima kenyataan
Mengapa
harus selalu terus bersedih oleh keadaan
Mungkinkah
ini kodrat manusia yang tak berdaya oleh keadaan
Tuhan
kemanakah engkau sekarang ini
Apakah
aku hanya bersembunyi oleh rasa takutku
Yang
menghilangkan setiap makna yang terukir di relung hati yang paling dalam
Ataukah
ini hanya alasan untuk mengingkari keadaan
Tuhanku
engkau seolah- olah tertawa melihat semua ini
Ketika
manusia yang tegar berubah seperti asap beracun
Membunuh
setiap nurani dan akal sehat
Tergerus
erupsi batin yang teramat memilukan
Jika
ada sebuah alasan aku akan memakimu
Menagapa
engkau ciptakan semuai ini
Mengapa
aku harus terpuruk oleh rasa tidak percaya
Membuatku
semakin hina tanpa arti
Terpuruk
oleh rasa ketidaksetujuan akan takdir
apakah
kau ini binatang jalang
Tanpa
sebab engkau muncul disaat hegemoni kesenangan
Ataukah
aku yang tidak bisa menerimamu seperti aku menyetubuhi hidupku
Hidupku
yang teramat rumit serumit ketika tuhan menyiptakan semesta
Aku
manusia yang hina
Aku
manusia yang hanya bisa memaki
Aku
manusia yang tidak bisa menerima
Aku
manusia yang hanya bisa mengeluh
Mengapa
harus terus merasa kehilangan
Bukankah
kita sendiri akan hilang ditelan mulut bumi
Dicabik-
cabik oleh tanah
Lalu
mati mengenaskan bagai bangkai tak bertuan
Apa
salahnya kita hanya berpikir kalau kita ini manusia
Bukankah
kita punya akal dan pengetahuan
Bukankah
kita mempunyai rasa percaya kalau tuhan itu ada
Mengapa
disetiap kehilangan kita harus memakinya dan memohonya
Kehilangan
sangat menyedihkan
Kehilangan
memang sungguh membuat membuat lupa
Lupa
akan siapa sebenarnya kita
Lupa
akan kodrati dan nurani
Mengapa
harus terus menagisi kehilangan
Mengartikan
kehilangan sebagai akhir dunia
Bukankah
kita nanti juga akan hilang
Hilang
tersayat, tertanam, tenggelam oleh panorama langit dan bumi
Kehilangan
memang akan hilang namun akan tetap hidup
Raga
memang lenyap, musnah tapi jiwanya akan selalu terkenang
Kenanglah
dan tersenyumlah karena kehilangan itu konsep ilahi
Tuhanpun
akan tersenyum dan berempati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar